Post 8
Salah satu tanda kepribadian seorang muslim itu adalah
berzikir. Kita dianjurkan berdzikir setiap saat, dari bangun hingga tidur
kembali. Secara harfiah, arti dzikir adalah mengingat Allah dengan menyebut
nama-nama-Nya.
Insya Allah, dengan membiasakan lidah untuk mengucap kalimat-kalimat thayyibah,
akan semakin mempertinggi ma'rifat kita kepada Allah swt. Dengan dekat kepada
Allah, hati jadi tenang. Berikut ini adalah tujuh kalimat thayyibah yang harus
menjadi penghias bibir umat setiap waktu.
1. Bismillahirrahmanirrahim.
Diucapkan setiap kita mengawali segala perbuatan. InsyaAllah, jika lidah kita
terbiasa, perbuatan ini sudah menjadi refleks kita, maka akan lebih mudah bagi
kita untuk menjaga diri dari perbuatan buruk. Karena senantiasa kita diingatkan
bahwa ada Allah yang melihat perbuatan kita.
Kalimat ini sekaligus mengingatkan kita, bahwa segala sesuatu adalah milik
Allah, termasuk diri kita yang hina ini. Juga setiap perbuatan kita, hendaknya
semua berada di garis yang ditetapkan Allah. Dalam sebuah hadis Rasulullah
menyatakan, "Bahwa setiap perbuatan baik yang tidak dimulai dengan kalimat
basmalah, maka perbuatan itu tak berkah."
2. Alhamdulillah
Inti dari ucapan dzikir ini adalah ungkapan rasa syukur atas kurnia dan rahmat
Allah swt. Sesungguhnyalah, pancaran perasaan syukur adalah energi kehidupan
yang sangat besar bagi manusia. Mereka yang paling banyak bisa bersyukur,
bererti telah memiliki yang terbanyak dibanding orang lain. Mengenai hal ini
difirmankan dalam QS. Ibrahim ayat 7, bahwa Allah akan menambah rahmat
nikmat-Nya kepada mereka yang mampu bersyukur.
Dengan mengucap kalimat ini setiap selesai melakukan satu pekerjaan, manusia
seakan menguatkan keyakinannya bahwa tak akan pernah terjadi sesuatupun tanpa
campur tangan Allah. Jika sesuatu itu baik, dirasakan sebagai pertolongan
Allah. Jika sesuatu itu kurang baik, tetap disyukuri dengan berkeyakinan bahwa
itupun sudah lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Dan manakala seseorang telah terbiasa mengucap syukur untuk hal-hal yang kecil,
maka ketika Allah menganugerahkan nikmat yang sedikit lebih besar, maka
kenikmatan yang dirasakan orang tersebut akan berlipat ganda.
3. Astaghfirullah
Difirmankan dalam QS. Ali Imran 135, "Orang-orang yang berbuat kekejian
atau menzalimi dirinya lalu ingat kepada Allah, maka minta ampunlah untuk
mereka atas dosa-dosa yang dilakukan."
Sungguh Maha Suci Allah Yang Maha Sempurna. Setelah Ia ciptakan manusia sebagai
makhluk hidup yang secara sunnatullah bisa berbuat khilaf, sekaligus Ia berikan
'ubat' bagi kekhilafan tersebut. Bagi mereka yang pandai meminum ubat ini, maka
mereka tak akan terserang penyakit hati yang lebih serius. Allah Maha
Pengampun, terutama bagi siapapun yang segera bertobat begitu sadar telah berbuat
khilaf.
Ummat Islam harus membasahkan bibir mereka dengan istighfar ini, sehingga
noda-noda dosa yang sempat menempel sedikit demi sedikit setiap hari tidak
segera menumpuk menjadi noktah hitam yang tebal. Semakin lama noda-noda ini
tertumpuk, akan menjadi semakin sulit untuk menghilangkannya. Maka benarlah
bahwa kebanyakan kesalahan besar berawal dari kekeliruan-kekeliruan kecil yang
tidak dibenari.
Sayangnya, seringkali manusia terlambat menyadari kekhilafannya itu. Untuk
menghindari keterlambatan taubat, maka dianjurkan untuk istiqamah mengucapkan
zikir ini setiap hari, terutama setelah shalat, walau dirasakan tak ada
kesalahan yang diperbuat. Rasulullah saw sendiri, yang sudah dijamin ma'shum,
(terjaga dari dosa), dalam sehari mengucap istighfar setidaknya 100 kali.
4. Insya Allah
Diucapkan ketika seseorang berniat hendak melakukan sesuatu di masa yang akan
datang. Zikir ini akan mengingatkan kita, bahwa kehendak Allah adalah di atas
segalanya. Tak seorangpun mengetahui apa yang akan terjadi detik setelah ini.
Itu sebabnya, tak akan pernah ada janji yang diikat 100 % antar manusia,
kecuali dengan menambahkan kalimat, Insya Allah (QS. Al Kahfi, 23-24).
Sayangnya, banyak orang mempergunakan kalimat ini secara keliru, hingga
berkembang anggapan bahwa kalimat mulia ini
diucapkan sebagai kelonggaran untuk tidak menepati janji. Perbuatan umum ini
banyak menggejala dalam sebagian masyarakat, sehingga membuat banyak orang
memandang negatif kalimat ini.
Adalah tanggung jawab kita bersama, kaum muslim, untuk meluruskan pandangan
ini. Dimulai dengan diri kita sendiri. Mari kita buktikan bahwa ucapan Insya
Allah bukan berarti niat untuk melanggar. Akan tetapi sebagai ikatan janji yang
sudah pasti akan ditepati secara logika manusia, disertai kepasrahan terhadap
kehendak Allah yang sewaktu-waktu bisa membuyarkan rencana.
5. Laa Haula walaa quwwata illaa billaah.
Zikir yang merupakan pengakuan terhadap kefanaan manusia dan ke-Maha Kuasanya
Allah ini diucapkan ketika seseorang mengambil keputusan (ber'azam). Kalimat
thayibah ini adalah pancaran dari sikap tawakal seseorang. Setelah berupaya
nyata mempertimbangkan, maka ketika keputusan diambil, dilanjutkan dengan
tawakal kepada Allah, yang dinyatakan dalam sikap menerima resiko apapun yang
terjadi nantinya akibat diputuskannya keputusan tadi. (Qs Ali >Imran : 159).
6. Laa Ilaaha Illallah
Banyak hadis nabi Muhammad yang menyebutkan keutamaan kalimat thayibah ini.
Bahkan disebutkan pula sebagai kunci pintu syurga. Dalam praktisnya, masih
banyak muslim yang terus menerus melafalkan kalimat ini dalam setiap
kesempatan, sayangnya, masih hanya sekedar refleks bibir saja.
Padahal, andai seseorang mengucapkan dzikir ini sembari mengupas hikmahnya,
sungguh nikmat dan manfaatnya akan diperoleh tiada habis-habisnya. Kerana khasiat erti dari kalimat ini begitu luasnya. Dan manfaatnya pun bisa
dirasakan di setiap waktu dan dalam kondisi apapun. Intinya satu; mengingat
kebesaran Allah SWT.
7. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun
Sungguh benar bahwa manusia adalah milik Allah, dan setiap inci pergerakan
tubuhnya beradadalam genggaman Nya. Namun kenyataan bahwa segala sesuatu itu
pasti kembali kepada pemiliknya, Allah SWT, tak jarang sulit untuk bisa
diterima manusia. Zikir yang diucapkan di saat menghadapi musibah ini akan
membantu kita untuk mengingat akan hal ini.
Insya Allah, dengan membiasakan meresapi hikmah kalimat ini, kita menjadi
lapang dada dalam menghadapi setiap peristiwa, seburuk apapun, yang sudah
menjadi takdir kita. Semakin dalam seseorang menghayati hikmah zikir ini,
semakin ringan dia menghadapi kehidupan yang berat ini, tanpa harus menghadapi
stress maupun depresi.
0 comments:
Post a Comment